Postingan

Menampilkan postingan dengan label Karya Tulis

Dermaga.

Kamu bilang hadirku membawa banyak tawa dan membuat mimpimu menjadi nyata. Padahal aku tahu betul, jejak kenangan dan pandanganku terhadap dunia selalu membuatmu terluka.  Bibir hatimu terkatup rapat, menahan bisingnya tangisan karena terlatih untuk memendam semua sesak yang terasa. Sayang sekali, kamu tidak pandai mengendalikan maupun menyembunyikannya. Aku pun tidak bisa selalu memakluminya, karena dahulu kala hatiku dibuat perkasa di tengah badai ujung dunia — di mana tidak ada cinta yang aku kenali di sana. Kamu melayang terlalu tinggi bersama cinta yang gagal aku pahami kesekian kalinya. Kini, deburan ombak terdengar lebih riuh daripada debaran yang aku punya. Obrolan tentang indahnya cinta yang telah kita rajut di tengah geramnya dunia, kini terasa asing di telinga. Cia, Yogyakarta, 21 Juli 2024.

Kiamat.

Pemerintah baru saja mengirimkan sebuah berita duka massal melalui pesan teks. Katanya malam ini kiamat akan mengambil alih kuasa di dunia. Jarum jam menunjuk pukul empat dini hari. Rembesan isak tangis manusia mulai terdengar di seluruh kota.  Aku genggam erat botol terakhirku sembari menatap luasnya laut yang akan berkontribusi memakan nyawaku malam ini. Ramalan tetang kiamat ini telah digaungkan sejak sebulan yang lalu. Banyak manusia berusaha menutup pintu dunia dengan meraung dalam doa agar malaikat maut tidak menampakan diri di hadapan mereka. Aku perhatikan kanan kiriku, melihat bagaimana dunia dan seisinya yang lapuk akan diluluhlantahkan oleh takdir yang tidak bisa diubah, bahkan oleh penyihir terkuat di dunia.  Semua sudah bersiap menyambut hari ini, kecuali aku . Dengan sisa waktu yang ada, apakah aku masih bisa menggali harta karun yang terkubur di setapak ladang gersang yang kutemukan di kamar Ibu? Apakah masih ada waktu untuk mengambil nektar bunga tidur yang men...

Rumah.

Garis bibir menyentuh mata tiap kali bertemu.  Kenyataan: tiap malam perasaan rusuh membabi buta jantungku. Kamu lepas alas kakimu, lalu memelukku erat sekali. Rasanya tak rela melepasku pergi. Apakah rumah lainmu runtuh lagi kali ini? Kamu kecup lekuk leherku. Senggal nafasmu terasa amat terburu. Apakah ada marah yang menggebu? Aku amati baik-baik rupamu. Segumpal takut terpantul di kedua mata cantik itu. Apa kamu melihat hal yang sama di bola mataku? “Jangan pergi.” Kamu hancurkan tumpukan pertanyaan yang sedang mewabah di kepalaku dengan sebuah permintaan yang sulit aku penuhi. “Aku gak akan kemana-mana. Jadi, jangan khawatir ya.” Aku akan terus ada di sini karena menyambut usainya romansa tragismu terasa seperti kewajibanku. Bukan berarti aku punya baja yang mampu menyelimuti semua sisi hati. Semua aku lakukan karena aku rumahmu. Rumah yang selalu mampu memberi banyak rupa buah tangan cemerlang, walau kamu masih mencari sempurna yang tidak dunia punya . Setiap kepulanganmu, aku...

Cermin

“Ibu lihat apa di cermin?” “Pantulan anak ibu.” “Apakah ia terlihat bahagia di sana?” “Ibu tidak bisa melihatnya dengan jelas dengan berbagai retakan yang ada di cermin ini, nak.” Bu, di cermin selalu ada aku yang mengenakan seribu tudung pilu. Mencoba mengais atensi publik agar mereka peduli dan sudi memberikan sejengkal maaf untuk pribadi lusuh yang tidak pernah bisa mengerti diri sendiri. Bu, di cermin selalu ada aku yang bertumbuh besar dengan ditemani banyak cela karena tidak pernah paham bagaimana cara merawat dewasanya emosi. Bu, di cermin selalu ada aku yang tidak pernah mengerti dialog manusia yang mengasihani padahal tak tahu apa yang harus ditangisi. Bu, ibu… Ibu di mana? Di pantulan cermin itu ada aku yang bersimpuh memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi lagi hidup yang bahagia. Apa ibu bisa melihatnya? Bu, diri di pantulan cermin itu menangisーsangat menyedihkan. Apa aku boleh membasuh kesedihannya, lalu terbang bersama dengan buntalan gelap untuk menjemput lelapnya cah...