Rumah.

Garis bibir menyentuh mata tiap kali bertemu. 

Kenyataan: tiap malam perasaan rusuh membabi buta jantungku.

Kamu lepas alas kakimu, lalu memelukku erat sekali. Rasanya tak rela melepasku pergi. Apakah rumah lainmu runtuh lagi kali ini?

Kamu kecup lekuk leherku. Senggal nafasmu terasa amat terburu. Apakah ada marah yang menggebu?

Aku amati baik-baik rupamu. Segumpal takut terpantul di kedua mata cantik itu. Apa kamu melihat hal yang sama di bola mataku?

“Jangan pergi.”

Kamu hancurkan tumpukan pertanyaan yang sedang mewabah di kepalaku dengan sebuah permintaan yang sulit aku penuhi.

“Aku gak akan kemana-mana. Jadi, jangan khawatir ya.”

Aku akan terus ada di sini karena menyambut usainya romansa tragismu terasa seperti kewajibanku. Bukan berarti aku punya baja yang mampu menyelimuti semua sisi hati. Semua aku lakukan karena aku rumahmu. Rumah yang selalu mampu memberi banyak rupa buah tangan cemerlang, walau kamu masih mencari sempurna yang tidak dunia punya.

Setiap kepulanganmu, aku selalu bernegosiasi alot dengan waktu supaya ia sudi berehat. Lima detikpun aku mau. Dengan begini, kamu bisa berhenti mencumbu rayu awak kerabat yang tidak aku tahu. 


Cia,
Yogyakarta, Maret 2021.

Komentar