Cermin
“Ibu lihat apa di cermin?”
“Pantulan anak ibu.”
“Apakah ia terlihat bahagia di sana?”
“Ibu tidak bisa melihatnya dengan jelas dengan berbagai retakan yang ada di cermin ini, nak.”
Bu, di cermin selalu ada aku yang mengenakan seribu tudung pilu. Mencoba mengais atensi publik agar mereka peduli dan sudi memberikan sejengkal maaf untuk pribadi lusuh yang tidak pernah bisa mengerti diri sendiri.
Bu, di cermin selalu ada aku yang bertumbuh besar dengan ditemani banyak cela karena tidak pernah paham bagaimana cara merawat dewasanya emosi.
Bu, di cermin selalu ada aku yang tidak pernah mengerti dialog manusia yang mengasihani padahal tak tahu apa yang harus ditangisi.
Bu, ibu… Ibu di mana? Di pantulan cermin itu ada aku yang bersimpuh memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi lagi hidup yang bahagia.
Apa ibu bisa melihatnya?
Bu, diri di pantulan cermin itu menangisーsangat menyedihkan. Apa aku boleh membasuh kesedihannya, lalu terbang bersama dengan buntalan gelap untuk menjemput lelapnya cahaya?
Cicitan burung mengabsen pendengar. Ah tanda surga mulai menarik paksa bahagia umatnya. Teater di atas tumpukkan kapas selesai: Ibu menghilang dan kehidupan cermin dimulai. Selamat tinggal gembira, semoga malam ini ada kali kedua untuk kita bersua.
Cia,
Yogyakarta, 24 November 2024.
Terimakasih untuk lagu Cermin karya Nadin Amizah yang sudah memberi banyak inspirasi selama tulisan ini dibuat. Terimakasih juga untuk kedua temanku, Berlin dan Thania yang sudah mengajakku untuk berproses di project tugas akhir sebuah mata kuliah, sehingga terciptalah tulisan ini.
Komentar
Posting Komentar