Pengalaman Membaca: Mei Merah 1988 (Kala Arwah Berkisah).

  Karya Naning Pranoto. Uploading: 2210023 of 2210023 bytes uploaded.






Kalau kamu masih mau hidup, jangan pernah takut. Siapa pun yang berani menunggang gelombang maka ia akan bisa jadi penguasa laut dan bumi. Kita harus berani menunggang gelombang. 

Mei Merah 1998 (Kala Arwah Berkisah) merupakan karya tulis Ibu Naning Pranoto yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2018 oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Buku ini terdiri dari 203 halaman dan terbagi dalam 12 bab. Setiap bab mengajak pembaca menyimak kisah yang diceritakan oleh para tokoh dari sudut pandang serta perasaan yang mereka alami.

Buku ini memiliki label usia 13+. Warning! This book contains content related to sexual violence, sexual harassment, trauma, and suicide attempts, which may be disturbing for some readers. It is recommended that you choose reading material that feels safe and comfortable for you.

Dalam buku ini, pembaca diajak mendalami kisah seorang perempuan bernama Humaira yang menjadi salah satu korban pemerkosaan pada peristiwa Mei 1998. Dari peristiwa tersebut, ia melahirkan seorang anak yang kemudian berusaha menelusuri jejak kehidupan sang ibu demi memenuhi rasa hausnya akan kebenaran.

Prolog buku ini berhasil membuka minat pembaca dengan sangat baik. Setelah membacanya, aku langsung merasa penasaran dan ingin segera menyelesaikan keseluruhan ceritanya. Apalagi buku ini sudah lama masuk dalam wishlistku, jadi rasa antusias dan ekspektasiku pun cukup tinggi sejak awal.

Membaca buku ini terasa seperti membuka kumpulan diary dari banyak orang. Setiap bab disajikan dari sudut pandang tokoh yang berbeda, sehingga pembaca diajak memahami peristiwa melalui beragam perasaan dan pengalaman. Alurnya maju mundur, yang sebenarnya membuat cerita terasa dinamis. Ada bab yang menghadirkan momen hangat dan membahagiakan, tetapi ada juga bagian yang begitu menyayat dan penuh kesedihan.

Pada bagian awal, cerita masih terasa nyaman untuk diikuti. Aku bisa menangkap ketegangan suasana yang terjadi saat peristiwa itu berlangsung, terutama bagi para perempuan dan masyarakat Tionghoa yang menjadi korban. Penggambaran situasi sosialnya cukup kuat dan sempat membantuku membayangkan betapa mencekam kondisi saat itu.

Namun, semakin ke belakang, menurutku kenyamanan membaca mulai berkurang. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu. Pertama, masih ditemukan cukup banyak kesalahan penulisan, padahal buku ini sudah memasuki cetakan kedua. Seharusnya kesalahan tersebut bisa diperbaiki sebelum dicetak ulang. Kedua, terdapat ketidakkonsistenan dalam penyebutan nama tokoh. Misalnya, ada karakter yang awalnya disebut “Cik Lin”, tetapi di bab lain berubah menjadi “Miss Lin”. Hal ini sempat membuatku bingung karena terasa seperti tokoh baru yang tidak familiar. Selain itu, ada juga ketidakkonsistenan dalam penyebutan penyebab kematian seorang tokoh. Di awal diceritakan bahwa karakter A meninggal karena stroke berat, tetapi di bagian lain disebutkan meninggal karena serangan jantung.

Beberapa bagian cerita juga terasa terlalu dramatis dan kurang masuk akal, sehingga membuatku sempat berhenti membaca karena bertanya-tanya, “Kok jadi kayak gini sih?” Ada pula bagian yang terasa bertele-tele sehingga ritme cerita menjadi sedikit lambat.

Meski demikian, aku tetap menyelesaikan buku ini sampai akhir. Terlepas dari kekurangannya, buku ini memberiku banyak pelajaran tentang penerimaan terhadap rintangan hidup, tentang berdamai dengan masa lalu yang retak, serta tentang menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Aku juga jadi lebih memahami gambaran kondisi sosial pada tahun 1998, khususnya bagi perempuan dan masyarakat Tionghoa. Rasa sakit yang dialami para korban cukup terasa, bahkan dalam beberapa bagian aku bisa ikut merasakan perih dan ngilunya.

Aku berharap, jika nantinya ada cetakan ulang berikutnya, isi buku ini dapat direvisi dan disunting kembali dengan lebih teliti agar pengalaman membaca menjadi lebih nyaman dan maksimal.

Komentar