Pengalaman Membaca: Mata di Tanah Melus.

 Karya Okky Madasari.

Orang dewasa selalu tak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana. Anehnya, mereka selalu berpura-pura tahu segalanya.

Mata di Tanah Melus merupakan novel karangan Okky Madasari yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2018 oleh Penerbit Gramedia. Memiliki 192 halaman dengan 22 bab. Beberapa lembaran di dalamnya dibalut dengan goresan ilustrasi yang membuat imajinasi pembaca semakin bermekaran.

Jika kamu sudah membuka buku ini, siap-siap bertemu dengan Matara, atau yang akrab disapa Mata. Seorang gadis berusia 12 tahun yang sangat gemar membaca buku dan mendengarkan cerita. Pernah ia mendengar cerita dari pengalaman neneknya yang terbangun di tempat penuh dengan raksasa. Mata senang dengan tumpukan imajinasi yang ia miliki. Suatu hari, perjalanan hidup membawanya ke sebuah pulau terpencil di Indonesia bernama Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Dalam petualangannya di pulau itu, Mata mengalami berbagai kejadian tak terduga yang mengingatkannya pada kisah Alice yang selama ini ia baca dari buku Alice's in Wonderland. Banyak tempat ia jelajahi dengan berbekal keberanian. Ia saksikan pula bagaimana manusia dan alam berkolaborasi dengan perantara adat. Setiap langkahnya terasa seperti lembaran baru dalam buku petualangannya sendiri.

Jujur, aku sudah lama banget penasaran sama novel anak karya Okky Madasari ini. Puji Tuhan, novel ini tersedia di iPusnas, jadi aku bisa langsung meminjam dan membacanya. Karena novel ini memang ditujukan untuk anak-anak, bahasa yang digunakan pun sangat ringan, mudah dipahami, dan terasa dekat dengan pembaca. Jujur, aku suka banget cara Okky Madasari menuliskan ceritanya. Gaya bahasanya membuatku seolah bisa membayangkan dengan jelas suasana yang sedang dijalani para tokohnya.

Setiap babnya juga tidak terlalu panjang, jadi tidak akan membuat pembaca cepat bosan. Justru sebaliknya, tiap bab membuatku semakin penasaran untuk lanjut membaca. Jadi, kalau kamu punya adik atau saudara kecil dan ingin mengenalkan mereka pada dunia novel, buku ini cocok banget untuk dijadikan hadiah pertama.

Yang aku suka lagi, novel ini juga memperkenalkan adat Indonesia yang mungkin belum banyak  diketahui orang. Terus juga aku jadi tahu sudut pandang anak-anak yang masih punya banyak imajinasi dan pertanyaan untuk hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Dari membaca buku ini, aku merasa belajar banyak hal baru. Ceritanya juga mengajarkan kita untuk lebih bersyukur dan tidak lari dari masalah. Kita diajak untuk berani menghadapi setiap tantangan dan menyelesaikannya, karena melarikan diri tidak akan membuat masalah hilang begitu saja. Aku juga sangat terinspirasi oleh karakter Mata. Meskipun masih kecil, ia tidak pernah menyerah saat menghadapi berbagai tantangan hidup. Dia berani terus melangkah ke depan. 

Tapi, ada juga bagian-bagian yang cukup bikin hati mellow ya. Novel ini menunjukkan bagaimana anak-anak sering kali menjadi korban dari permasalahan orang dewasa, padahal mereka sendiri tidak mengerti akar masalahnya. Salah satu bagian yang bikin aku sedih adalah saat Mata merasa jauh dari mamanya karena kesibukan sang mama. Bahkan, Mata pernah bilang,

Ia menciptakan dunia bagi banyak orang, tapi ia tak pernah hidup dalam dunia yang sama denganku

Sedih sih waktu aku baca kalimat itu. Kalian harus baca buku ini biar tahu gimana kelanjutan hubungan Mata sama mamanya. Aku juga bakal lanjut baca perjalanan Mata yang lainnya, sih 

Komentar