Pengalaman Membaca Buku: Dari Dalam Kubur.

Karya Soe Tjen Marching.



Manusia bakal lenyap suatu ketika, jadi jangan pernah menyia-nyiakan hidup dengan bungkam.

Dari Dalam Kubur adalah sebuah novel karya Soe Tjen Marching yang pertama kali diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri pada September 2020. Novel ini terdiri atas lima bab dengan total 508 halaman. Kisahnya menyoroti pengalaman dan ingatan para penyintas tragedi 1965 di Indonesia, menghadirkan suara-suara yang selama ini dibungkam, serta menggambarkan bagaimana trauma masa lalu dapat membekas hingga generasi berikutnya.

Ketika membuka dan membaca buku ini, kita akan bertemu dengan kisah Karla, perempuan yang merasa dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Ia juga merasa menjadi sosok yang paling berbeda di sana. Seiring berjalannya waktu, perasaan disingkirkan semakin terpupuk subur di dalam dirinya hingga akhirnya menumbuhkan kebencian yang besar kepada keluarganya, terutama kepada mamanya yang ia pandang sebagai sosok misterius. Banyak tanya yang selama ini ia simpan, hingga akhirnya satu per satu terjawab dan menguak rahasia yang disembunyikan keluarganya selama ini.

Hal pertama yang membuatku melirik buku ini adalah judulnya yang terkesan sangat horor. Ternyata setelah dibaca, isinya memang horor, tapi bukan horor yang dipenuhi hantu. Horor di sini adalah kisah-kisah kelam yang lahir dari sejarah menyakitkan, sejarah yang jarang disuarakan banyak orang.

Buku ini terdiri dari lima bab, dan setiap bab menghadirkan sudut pandang tokoh yang berbeda. Dari sudut pandang mereka, kita diajak melihat bagaimana mereka memandang hidup, memandang orang lain, serta menanggung akibat dari perlakuan keluarga yang masih dibayangi oleh trauma masa lalu.

Membaca buku ini terasa seperti menelusuri lorong penuh kejutan. Plot twist muncul di titik-titik yang sama sekali tidak aku bayangkan. Beberapa di antaranya sangat menyakitkan untuk dicerna dengan cepat, sehingga aku memilih untuk membaca perlahan, mencoba meresapi perasaan yang dialami tiap tokoh.

Salah satu tokoh yang paling menarik perhatianku adalah sosok yang menyimpan trauma mendalam dan tidak pernah bisa menyelesaikan trauma itu. Ia memandang pengalaman traumatis pada tahun 1965 sebagai pelajaran hidup yang harus diwariskan kepada keluarganya agar mereka lebih berhati-hati. Namun, sikapnya juga membingungkan. Pelajaran macam apa yang sebenarnya ia maksud? Apakah itu cara agar keluarganya bisa tetap melangkah benar, atau justru beban yang memperumit kehidupan mereka? Pergolakan batin itu akhirnya membuat trauma yang ia simpan turut diwariskan kepada anggota keluarga lainnya. Kamu harus membaca buku ini supaya tahu, siapa yang aku maksud di dalam tulisanku ini.

Melalui buku ini, aku jadi memahami lebih dalam apa yang dialami masyarakat, khususnya etnis Tionghoa, ketika tragedi 1965 meletus. Bagaimana ketidakadilan menjerat mereka, bagaimana suara mereka dibungkam, dan bagaimana rasa takut menjadi bagian dari kehidupan mereka dalam waktu yang begitu lama.

Meski aku tidak hidup pada tahun itu, aku bisa merasakan betapa perihnya luka dan rasa sakit yang dialami para korban. Sejarah hadir bukan untuk dihapus atau diabaikan, melainkan untuk mengingatkan kita agar melangkah lebih maju dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kemanusiaan seharusnya menjadi pijakan utama dalam setiap langkah, karena tanpa kemanusiaan, kita mudah terjebak dalam kebencian dan ketidakadilan. Selain itu, aku juga menyadari bahwa keberanian untuk menyuarakan kebenaran adalah langkah besar, meskipun seringkali penuh risiko dan penolakan. Keberanian itu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk mereka yang suaranya dibungkam, yang kisahnya terlupakan, dan yang penderitaannya terabaikan. Dengan berani menyuarakan kebenaran, kita memberi ruang bagi keadilan untuk tumbuh dan memberi harapan agar luka lama tidak terus diwariskan.

Cia,
Yogyakarta, 28 Agustus 2025

Komentar