Pengalaman Membaca Buku: Para Pelacur dalam Perahu.

 Karya Seno Gumira Ajidarma

Tidakkah ini seperti hidup mereka yang selalu mengalir, yang melawan atau mengikuti arus tetap saja terus menerus mengalir. Dari persinggahan satu ke persinggahan lain, segenap perhentian hanyalah untuk kembali berangkat, mengalir dan mengalir, menuju ke suatu tempat entah di mana yang tidak perlu ditentukan, entah dari mana menuju entah ke mana. Seperti perjalanan kehidupan, jauh sebelum dunia ini ada, entah dari apa menjadi entah apa.

Para Pelacur dalam Perahu karya Seno Gumira Ajidarma adalah buku roman pertama yang aku baca. Awalnya aku mengira roman dan novel adalah hal yang sama, tapi ternyata berbeda. Hasil penelusuranku di google: secara umum, baik roman maupun novel memang sama-sama fiksi. Tapi bedanya ada pada cara penyajian cerita dan fokus penceritaannya. Kalau dalam novel, cerita lebih menekankan pada apa yang sedang terjadi kayak alur, konflik, dan bagaimana semuanya berkembang. Jadi pembaca biasanya diajak mengikuti rangkaian peristiwa dari awal sampai akhir. Sementara roman lebih fokus pada penggambaran perasaan dan kehidupan batin para tokohnya. Jadi saat membaca roman, yang lebih terasa adalah, "oh jadi ini yang dirasakan sama tokoh ini" daripada sekadar "apa yang terjadi selanjutnya ya sama tokoh ini?" Jadi kesimpulannya roman cenderung menggali lebih dalam soal emosi, pergulatan psikologis, dan perjalanan batin tokoh. Dalam buku ini sendiri tiap babnya ditulis secara singkat dan memang terfokus pada bagaimana pergulatan perasaan dari tiap tokoh yang ada ketika menghadapi suatu rintangan kehidupan. 

Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Pabrik Tulisan pada tahun 2023. Di dalamnya terdapat 25 bab yang menggambarkan kisah perjalanan para pelacur di atas perahu, semuanya terangkum dalam 286 halaman. Seno Gumiro sebenarnya telah menyelesaikan penulisan bab 1 hingga bab 4 sejak tahun 2003, yang rencananya akan dimuat sebagai cerita bersambung di sebuah surat kabar. Namun, rencana itu batal karena mengandung kata "pelacur". Kemudian, beliau mulai melanjutkan menulis bab 5 pada Juni 2020, dan sejak Desember 2020 roman ini mulai dipublikasikan secara bertahap di situs Bookslife.

Ketika kamu membuka buku ini, kamu akan bertemu dengan kisah Tumirah, sang mucikari, yang berusaha menyelamatkan nyawa 20 pelacurnya dari bencana kebakaran yang telah melahap rumah bordil serta rekan-rekan mereka dengan ganas. Tumirah dan ke-20 bidadarinya berusaha melarikan diri dengan menggunakan perahu, lalu memutuskan untuk berkelana sambil tetap melacur di atas perahu, hingga akhirnya perahu itu disebut sebagai perahu cinta. Mereka tidak memiliki tujuan yang pasti. Perahu mereka berjalan mengikuti arah hati mereka. Apabila hati mereka merasa aman, mereka akan berlabuh di tempat itu untuk sementara waktu.

Hal pertama yang ingin aku apresiasi dari buku ini adalah desain sampulnya. Jujur, alasan awal aku membeli buku ini adalah karena tertarik dengan cover dan judulnya. Setelah selesai baca buku ini, aku baru sadar bahwa ilustrasi pada sampul terasa sangat hidup karena itu mewakilkan bagaimana isi cerita di dalam buku. Kalau kamu lihat di foto yang udah aku cantumkan, di cover itu ada dua perahu, dan jika diperhatikan lebih saksama, terdapat sosok bersenjata yang mengarahkan senjatanya ke arah "perahu cinta." Ilustrasi ini sangat pas menggambarkan ketegangan yang akan kamu temui di dalam cerita.

Satu hal lain yang sangat aku nikmati adalah penggambaran suasananya yang ada. Baik suasana tentang aliran sungai maupun kampung-kampung yang mereka lewati atau singgahi. Penulis menggambarkannya dengan sangat detail, namun tetap menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Aku jadi bisa membayangkan dengan jelas bagaimana rupa dan atmosfer kampung-kampung itu. Ada yang terlihat menyedihkan, namun ada pula yang terasa hangat dan menyambut. Saat perahu mereka menghadapi rintangan di tengah sungai, aku seolah ikut naik ke dalam perahu dan merasakan langsung ketegangan yang ada. Bagian-bagian yang melukiskan alam sungguh menjadi favoritku karena berhasil membuatku larut dalam cerita.

Aku benar-benar menikmati membaca buku ini. Bahkan, sengaja aku baca perlahan supaya tidak cepat selesai. Kisah petualangannya begitu menarik dan membuatku penasaran, jadi aku berusaha menahan diri untuk tidak terburu-buru menuntaskannya. Narasi tentang "berkelana tanpa tujuan" sangat melekat dalam cerita ini, dan justru dari situlah kesan yang mendalam terbentuk bagiku.

Melalui kisah Tumirah dan ke-20 bidadarinya, aku mendapatkan banyak perspektif baru tentang dunia kepelacuran. Buku ini menunjukkan bahwa, bagi sebagian orang, pilihan untuk menjual tubuh bukan semata-mata karena keterpaksaan, melainkan bisa menjadi bentuk kemerdekaan yang lahir dari keputusan sadar atas tubuh mereka sendiri.

Lalu, apakah buku ini lantas mendorong seseorang untuk mengikuti jejak mereka sebagai pelacur? Tentu bukan begitu maksudnya. Justru, dari kisah mereka dan perjalanan mereka mencari kemerdakaan tubuh, ada banyak nilai yang bisa dimaknai dan ditanamkan ke dalam diri. Salah satunya adalah bagaimana para pelacur dalam cerita ini benar-benar memahami segala konsekuensi dari keputusan yang mereka ambil. Meskipun berada di bawah suatu naungan, mereka sadar sepenuhnya bahwa keberlangsungan hidup ada di tangan mereka sendiri. Karena itulah, mereka merasa berhak untuk mengambil keputusan baru kapan pun dibutuhkan. Mereka pun juga sadar bahwa tubuh yang miliki sepenuhnya harus mereka jaga. Selain itu, mereka juga tidak gentar dalam menghadapi rintangan. Justru keberanian untuk mencoba, melangkah, dan bertahan di tengah berbagai tekananlah yang membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Mereka tidak mudah menyerah terhadap keadaan, dan terus melangkah meski takdir yang mereka hadapi tidak selalu berpihak.

Selama perjalanan di atas air, Tumirah pun mendidik para bidadarinya untuk memahami makna dari Kama Sutra, yang tidak sekadar membahas seksualitas, tetapi juga cinta dan relasi manusia. Ilmu inilah yang menjadi bekal mereka dalam menjalani hidup di dunia kepelacuran. Aku pribadi baru pertama kali mengetahui tentang Kama Sutra dan dari buku ini aku bisa paham sedikit-sedikit tentang isinya. 

Untuk tokoh favorit, aku sangat menyukai Supiah. Ia digambarkan sebagai sosok yang tangguh dan tabah sejak kecil. Diceritakan bahwa saat kecil ia ingin belajar pencak silat, namun ia ditentang oleh guru pencak silat tersebut karena ia perempuan. Meski begitu, ia tetap belajar secara diam-diam sampai akhirnya ia menguasai teknik bela diri dan mampu melindungi para penghuni kapal. Ia bahkan mengajarkan orang lain untuk bisa menjaga diri mereka sendiri. Supiah selalu berusaha menjaga semua orang di atas kapal dalam keadaan yang aman. Apapun rintangannya, ia selalu bisa memasang badan bagi mereka semua.

Tokoh-tokoh lain pun meninggalkan kesan tersendiri karena masing-masing memiliki karakteristik yang unik. Tumirah pun sangat berkesan bagiku karena keberaniannya dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas segala risikonya. Selain itu, ada satu karakter misterius yang juga aku suka: seorang anak bersama kuda putihnya yang sering terlihat di sekitar perahu cinta. Sepanjang cerita, aku dibuat penasaran tentang siapa sebenarnya anak ini. Walau hingga akhir kisah identitasnya tidak dijelaskan secara gamblang, tapi aku tidak merasa kecewa. Justru, kehadirannya yang misterius menambah warna tersendiri. Saat perahu cinta berada dalam situasi genting, aku selalu berharap anak ini akan muncul dan membantu para bidadari di atas kapal.

Jadi apakah kamu tertarik untuk ikut berkelana dengan Tumirah di dalam buku ini?

Cia,
Yogyakarta, 7 Juni 2025. 

Komentar