Pengalaman Membaca Buku: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!
Karya Muhidin M. Dahlan
Sebab, terkadang melalui dosa yang dihikmati, seorang manusia bisa belajar dewasa.
Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur (Memoar Luka Seorang Muslimah) karya Muhidin M. Dahlan memiliki 251 halaman dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2003 oleh penerbit Melibas. Edisi yang aku miliki saat ini adalah cetakan ke-25, diterbitkan pada tahun 2024 oleh Warning Books.
Alur novel ini mengisahkan perjalanan hidup Nidah Kirani, seorang muslimah yang memiliki cita-cita untuk mendalami ajaran agama demi menjadi muslimah sejati dengan bergabung bersama organisasi pejuang negara Islam. Namun, dalam perjalanannya, ia mengalami kekecewaan yang mendalam terhadap agama dan Tuhan. Kekecewaan itu membuatnya memilih jalan yang berbeda: ia memutuskan menjadi pelacur dan meninggalkan Tuhan karena merasa tidak lagi merasakan kasih-Nya dalam hidupnya.
Seberani judulnya, isi di dalam buku ini pun cukup frontal, sehingga aku akan meletakkan beberapa trigger warning untuk buku ini: This book contains sensitive themes such as crisis of faith, criticism of religious institutions, prostitution, sexual harassment, suicide attempts, spiritual trauma, and deep inner conflict. The content may potentially cause discomfort for readers who have experienced religious pressure, spiritual struggles, sexual harassment or abuse, as well as issues related to sexuality and identity. It is recommended to choose reading material that feels safe and comfortable for you. Meskipun buku ini tidak memiliki label usia, saya menyarankan agar buku ini dibaca oleh pembaca berusia 17 tahun ke atas karena mengandung konten seksual dan tema-tema sensitif lainnya.
Buku ini berfokus pada cerita, perasaan, dan pandangan tokoh utama, Kirani, dalam perjalanannya mencari makna hidup hingga akhirnya merelakan mimpinya begitu saja. Cerita disampaikan melalui 13 bab pengakuan yang sangat personal dan penuh pergolakan batin. Membaca buku ini rasanya seperti membaca catatan harian seseorang.
Novel ini termasuk karya yang cukup kontroversial karena dianggap mengandung pesan-pesan yang tidak baik atau menyimpang. Selain itu, ketika kita membaca buku ini, kita bisa menemukan berbagai isu seperti agama, feminisme, dan moralitas manusia yang mungkin bisa saja membuat beberapa orang merasa kurang nyaman ketika membacanya.
Sejujurnya, aku juga sempat merasa kurang nyaman saat membaca buku ini. Pergolakan batin Kirani terasa begitu cepat berubah—naik turun dalam waktu yang singkat—dan sering kali ia mengambil keputusan berat tanpa mempertimbangkan dampaknya dalam jangka panjang. Selama membaca, aku merasa emosiku ikut naik turun: tiba-tiba marah, kecewa, sedih, bahkan frustrasi. Frustasinya waktu Kirani sadar dia ini masih ingat dan butuh Tuhan, tapi di sisi lain, dia juga ingin melepaskan-Nya sepenuhnya. Fristasi juga karena sebenernya Kirani ini pintar loh sebetulnya tapi dia tuh salah jalan aja. Ada semacam tarik-ulur emosi yang intens, dan itu cukup menguras energi saat membaca. Jujur, aku sampai memberi jeda sekitar dua hari untuk istirahat dari buku ini sebelum akhirnya melanjutkan lagi.
Setelah selesai membaca ini, aku mencoba untuk memahami apa yang dirasakan oleh Nidah Kirani. Dengan memahami ini lah aku jadi lebih mengerti alasan di balik keputusan Kirani dalam mempertanyakan kasih dan kehadiran Tuhan. Aku bisa melihat betapa dahsyatnya pergolakan batin yang dia alami karena rasa kecewa yang mendalam. Menurutku ini semua bermula dari Kirani yang sejak kecil tidak terbiasa dengan ajaran agama, ketika dewasa justru merasa dekat dengan agama karena melihat agamanya seindah dan senyaman itu, dia ingin mempertahankan perasaan tenang itu dengan bercita-cita menjadi muslimah sejati. Namun, cita-cita itu ternyata terlalu besar hingga membuatnya tidak sadar sudah mengorbankan begitu banyak hal untuk sesuatu yang akhirnya terasa sia-sia. Ketika rasa kekecewaan itu datang, ia sangat terpukul. Rasa sakit itu membuatnya mempertanyakan kehadiran Tuhan, lalu memutuskan untuk meninggalkannya.
Menurutku, dari bagian inilah kita bisa mengambil pelajaran berharga. Apa pun yang kita impikan dan inginkan dalam hidup, sebaiknya kita kejar dengan langkah yang tenang dan tidak terburu-buru. Nikmati prosesnya, dan jangan lupa untuk selalu menyisakan ruang ikhlas dalam hati untuk setiap hal yang sedang kita kejar. Sebelum mengambil keputusan atas tawaran yang tampaknya menjanjikan, kita harus berpikir matang dan memahami konsekuensinya terhadap hidup kita. Kita sebagai manusia bisa menanam ekspektasi, tapi bagaimana pun juga Tuhan sudah memiliki rencana atas kehidupan kita sendiri. Kita pun juga punya rencana di dalam hidup ini tapi kita harus sadar dengan konsekuensi yang akan kita tanggung nantinya. Selalu ada titik hitam dalam putih, dan titik putih pun selalu hadir di tengah hitam. Sisi kelam kehidupan Nidah Kirani tidak sepenuhnya gelap. Di dalamnya, kita tetap bisa menemukan nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran hidup seperti yang udah aku katakan di atas tadi. Seperti kutipan yang ada di dalam buku ini,
Sesekali kita harus mendengar suara dari kaum yang termaginalkan. Supaya kita bisa mendapatkan keseimbangan informasi
Sayang, masih ada beberapa hal yang membuatku kurang puas saat membaca buku ini. Aku masih menemukan banyak kekosongan dalam alur cerita. Mungkin karena penulis memang ingin lebih fokus pada sosok Nidah Kirani aja ya, sehingga tokoh-tokoh lain tidak dikembangkan dengan cukup mendalam. Padahal, aku cukup penasaran dengan nasib beberapa karakter yang sempat hadir dalam kehidupan Kirani, tetapi akhirnya tidak dijelaskan dengan tuntas. Selain itu, aku juga beberapa kali merasa bingung dengan kehadiran tokoh-tokoh pria dalam cerita. Sering muncul pertanyaan seperti, “Tokoh ini sudah muncul sebelumnya, belum ya?” atau “Ini tokoh baru atau yang tadi?”, "Loh, tokoh yang tadi ke mana? Kan dia yang bikin Kirani kayak gini. Kok tiba-tiba hilang dari alur gitu aja."
Penulis sendiri menyatakan bahwa cerita ini adalah fiksi, namun bahan dasarnya diambil dari wawancara mendalam yang ia lakukan.
Yogyakarta, 17 Mei 2025.


Komentar
Posting Komentar