Pengalaman Membaca Buku: Pangeran Cilik (Le Petit Prince)

 Karya Antoine de Saint-Exupéry



Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.

Pangeran Cilik, atau dalam judul aslinya Le Petit Prince, adalah sebuah novel berbahasa Prancis karya pilot ternama, Antoine de Saint-Exupéry. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1943 dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Terjemahan Bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1979, kemudian disusul oleh dua versi terbitan Gramedia pada tahun 2003 dan 2010. Buku ini tidak terlalu tebal, terdiri dari sekitar 120 halaman yang dilengkapi dengan ilustrasi. Kebetulan, edisi yang aku baca adalah terbitan Gramedia tahun 2010, yang diterjemahkan dengan apik oleh Henri Chambert-Loir.

Mengintip garis besar isi novel ini, Pangeran Cilik bercerita tentang pertemuan seorang pilot yang terdampar di gurun pasir dan bertemu dengan Pangeran Cilik yang mengaku berasal dari luar angkasa. Dalam pertemuan itu, kita diajak menyimak kisah perjalanan sang Pangeran Cilik mengembara dari satu planet ke planet lainnya hingga akhirnya tiba di Bumi. Semua perjalanan itu ia tempuh demi mencari tahu bagaimana caranya menjaga sesuatu yang selama ini ia anggap sangat berharga.

Sebelum berbagi mengenai pengalamanku membaca buku ini, aku ingin berterimakasih kepada iPusnas yang sudah menyediakan buku ini dalam jumlah copy-an yang banyak sehingga aku punya kesempatan untuk meminjam dan membacanya. Jujur, ini adalah buku pertama yang aku pinjam di iPusnas karena yang lain masih dalam status mengantri. Ternyata membaca di sana tetap terasa nyaman-nyaman aja.

Buku ini menghadirkan suasana yang sangat "kanak-kanak", mulai dari tampilan sampul, gaya bahasa yang digunakan, hingga ilustrasi yang ada di dalamnya. Aku sangat menikmati membacanya karena terjemahannya mudah dipahami, ilustrasinya membantu membangun imajinasi terhadap alur cerita, dan jalan ceritanya membuatku terus merasa penasaran. Filosofi yang disampaikan pun terasa sangat relevan dengan berbagai hal yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun identik dengan suasana "kanak-kanak", sebenarnya buku ini ditujukan untuk orang dewasa. Pangeran Cilik seolah berhasil “menampar” pembacanya dengan cara yang halus. Pengarang mengangkat berbagai permasalahan orang dewasa melalui sudut pandang dan imajinasi seorang anak. Buku ini juga menyindir bagaimana orang dewasa sering merasa dunia mereka sudah matang dan lengkap, sehingga cenderung mengabaikan dunia anak-anak, yang sebenarnya justru lebih luas, jujur, dan bermakna. Akibatnya, orang dewasa kerap tidak terlalu memedulikan dunia anak-anak, padahal bagi anak-anak, dunia itu sangat berharga dan penuh makna.

Buku ini terdiri dari 27 bab. Meskipun setiap bab tidak terlalu panjang, masing-masing selalu menyimpan pembelajaran yang bisa dipetik. Jujur, semua bab adalah favoritku. Tapi berikut ini adalah tiga bab yang paling membekas dan menjadi top 3 versiku:

1. Bab VIII – Pertemuan Pangeran Cilik dengan Bunga Mawar

Bab ini menceritakan pertemuan pertama Pangeran Cilik dengan setangkai bunga mawar di planetnya. Yang membuatku menyukai bagian ini adalah bagaimana usaha Pangeran Cilik dalam merawat dan menjaga setangkai bung mawar seperti seorang anak kecil yang menjaga barang berharganya dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. Menariknya, Pangeran Cilik belum pernah merawat bunga sebelumnya, tetapi ia mau belajar untuk menjaga bunga itu agar tetap hidup. Usaha-usaha kecilnya membuahkan hasil, meskipun pada akhirnya, apa yang ia jaga tidak bertahan lama. 

2. Bab XVII – Pertemuan dengan Ular di Gurun

Bab ini cukup menarik perhatianku sejak awal karena di sinilah diceritakan bagaimana Pangeran Cilik akhirnya sampai di Bumi. Ia bertemu dengan banyak hal yang terasa asing dan berbeda dari apa pun yang pernah ia temui, salah satunya adalah ular. Yang paling aku suka dari bab ini adalah percakapan antara ular dan Pangeran Cilik:

"Kamu binatang yang aneh," katanya kemudian, "Kurus seperti jari..."

"Tapi aku lebih sakti daripada jari seorang raja," kata ular.

Pangeran Cilik tersenyum.

"Kamu tidak begitu sakti, kaki saja kamu tidak punya, kamu tidak bisa berjalan-jalan..."

"Aku dapat membawamu lebih jauh dari sebuah kapal," kata ular.

Ia melilit pergelangan kaki Pangeran Cilik, seperti gelang emas. 

"Orang yang kusentuh kukembalikan ke tanah tempat asalnya," katanya lagi.

Dari kutipan itu, aku menangkap satu pesan penting: ketika kita bertemu dengan sesuatu yang asing dan tampak tak berdaya, sering kali kita meremehkannya. Padahal bisa saja hal itu jauh lebih kuat daripada yang kita kira. Pesan "jangan menilai dari tampilan luar" terasa sangat kuat di sini.

Kutipan lain yang aku suka dari bab ini adalah: 

Orang-orang dewasa pasti tidak akan memercayai kalian. Mereka membayangkan dirinya menduduki tempat yang amat luas. Mereka melihat dirinya sendiri sepenting pohon-pohon baobab.

Kamu bisa mengartikan sendiri apa makna dari kalimat itu karena maknanya bisa ditafsirkan secara luas, tapi menurutku arti dari kalimat di atas adalah: orang dewasa kadang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sampai lupa bagaimana rasanya menjadi kecil, sederhana, dan terbuka terhadap dunia.

3. Bab XXII – Pertemuan dengan Tukang Wesel

Di bab ini, Pangeran Cilik bertemu dengan seorang tukang wesel kereta api yang tugasnya adalah mengarahkan ke mana kereta-kereta akan melaju. Yang menarik adalah gambaran tentang para penumpangnya. Orang-orang dewasa di dalam kereta hanya tidur atau menguap, sedangkan anak-anak menempelkan hidung mereka di jendela—penasaran, antusias, dan benar-benar hadir di momen itu. Ada dialog yang aku suka sekali:

"Mereka mengejar para penumpang yang pertama?" tanya Pangeran Cilik.

 "Mereka tidak mengejar apa-apa," kata tukang wesel.

"Mereka tidur di dalamnya, atau mereka menguap. Hanya anak-anak yang menempelkan hidungnya pada jendela."

"Hanya anak-anak yang tahu apa yang mereka cari," kata Pangeran Cilik

Buatku, bab ini menggambarkan perbedaan yang mendalam antara cara anak-anak dan orang dewasa menjalani hidup. Anak-anak tahu apa yang mereka cari, sementara orang dewasa sering kali justru terbawa arus tanpa arah yang jelas, bahkan meninggalkan hal-hal berharga di dalam hatinya karena merasa sudah tidak pantas lagi untuk bermimpi atau mendambakan banyak hal. Padahal, tidak ada salahnya sesekali menjadi "kanak-kanak" yang menjalani hidup dengan penuh antusiasme, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk menikmati setiap momen. Karena mungkin, justru di sanalah letak kehidupan yang hangat bisa dirasakan.

Cia,
Yogyakarta, 22 Mei 2025.

Komentar