Pengalaman Membaca Buku: Malam Terakhir.
Karya Leila S. Chudori
Kumpulan cerpen karya Leila S. Chudori ini berjudul Malam Terakhir, terdiri dari 9 cerpen dengan total 117 halaman. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti pada tahun 1989. Cerpen-cerpen di dalamnya mengangkat berbagai persoalan yang sebenarnya terasa dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali kita abaikan atau bahkan tidak sadari bahwa itu adalah sebuah permasalahan. Malam Terakhir juga memuat konflik-konflik batin, relasi yang rumit, dan kerasnya dinamika kehidupan. Kesempatan membaca buku ini aku dapatkan karena meminjamnya dari iPusnas. Terimakasih iPusnas.
Ini adalah kali pertama aku membaca karya Leila, dan wow, aku langsung jatuh cinta dengan gaya penulisannya. Selama membaca Malam Terakhir, aku menyadari bahwa Leila S. Chudori sering menghadirkan tokoh-tokoh ternama dalam tulisannya sebagai 'teman khayalan' dari tokoh utama dalam cerita. Hal ini cukup menarik perhatianku dan menjadi salah satu ciri khas yang membuat ceritanya terasa unik dan hidup. Dari kesembilan cerpen yang ada, semuanya menjadi favoritku. Jadi, izinkan aku membagikan pengalaman membacaku terhadap masing-masing cerpen dalam buku ini.
Cerpen Paris, Juni 1988 akan mempertemukanmu dengan seorang tokoh yang tampaknya penuh kebebasan, tetapi ternyata justru terpenjara dalam khayalannya sendiri. Ia membangun dunia yang ia yakini bisa memberinya kebahagiaan, hingga pada akhirnya ia harus merelakan sebagian dirinya untuk bertahan di dunia itu. Saat membaca cerpen ini, aku menangkap pesan bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah benar-benar baik, bahkan jika hal itu terasa menyenangkan. Salah satu kutipan yang membekas dari cerpen ini adalah:
Apakah ia tak bisa hidup dalam kebebasan?
Cerpen Adila membawamu ke dalam kisah seorang anak perempuan yang hidup dalam bayang-bayang ekspektasi ibunya. Ia tidak memiliki ruang untuk menikmati dunianya sendiri. Ia seperti dipenjara oleh keinginan orang tuanya. Cerpen ini cukup menguras emosiku, dan membuatku sedih karena tokoh utama di dalam cerpen ini hanya merasa hidupnya mulai bermakna saat ia "berkelana" dalam pikirannya dan bertemu dengan tokoh-tokoh favoritnya. Kutipan ini sangat membekas untukku:
Ursula, aku tak mengerti kenapa aku lahir untuk harus selalu menjadi bayang-bayang ibuu. Semua tindakan dan pemikiran yang lahir dari diriku selalu salah. Karena itu, aku merasa, kamar mandi ini adalah tempat yang menyenangkan. Bak kamar mandi, gayung, odol, sabun, air dan bahkan taik di dalam jamban itu tak akan berteriak-teriak sekalipun aku ingin telanjang selama lima jam. Mereka semua memahami dan mentolerir keganjilanku...
Berlanjut ke cerpen Air Suci Sita, di sini kamu akan dihadapkan dengan isu patriarki dan stigma kesucian perempuan yang masih lekat di masyarakat: bahwa perempuan harus perawan sebelum menikah, sementara laki-laki tidak dituntut hal yang sama. Kutipan ini sangat membekas dan memancing amarahku:
Kalau kau yang berkhianat, pastilah kau dianggap nista. Tetapi jika aku yang berkhianat, maka itu dianggap biasa.
Cerpen ini berlanjut ke Sehelai Pakaian Hitam, yang menggambarkan pentingnya menjadi diri sendiri. Cerpen ini menyadarkanku bahwa tidak perlu berpura-pura menjadi sosok yang sempurna untuk menyenangkan orang lain. Kita berhak jujur terhadap apa yang kita rasakan dan inginkan. Kutipan ini sangat mewakili isi cerpennya:
Aku percaya bahwa setiap manusia memiliki warna hitam. Mereka bukan malaikat; mereka bukan setan. Gadis itu, dalam cerita pendekku, adalah seorang gadis yang ingin memastikan semua warna putih memiliki noda
Lalu ada cerpen Untuk Bapak, yang disajikan dalam bentuk surat dari seorang anak kepada ayahnya yang telah tiada. Hubungan mereka terasa begitu dalam, erat, dan kehilangan yang dirasakan sangat menyakitkan. Kutipan ini menghantam hatiku:
Sejak punggungmu menghilang dalam kegelapan malam itu, aku tak pernah meminta siapapun untuk menggantikan tempatmu. Aku membiarkan malam-malam itu berlalu dengan hati kosong
Cerpen Kets juga tak kalah menyentuh. Ini salah satu cerpen yang sempat membuatku perlu membacanya berulang kali. Di sini dikisahkan tentang seorang perempuan yang mempertahankan keinginannya untuk hidup sesuai rencananya sendiri, meskipun keluarganya menuntutnya menikah dengan laki-laki pilihan mereka. Cerpen ini menggambarkan pergolakan batin yang sering terjadi dalam lingkup keluarga. Kutipan ini begitu kuat bagiku:
John, saya bisa membuktikan bahwa hidup saya bukan mimpi. Saya bisa meraih kebahagiaan yang saya inginkan. Akan saya tunjukkan padamu, juga pada sekumpulan elang yang menggerogoti kemerdekaan saya, bahwa saya bisa mencegat perginya kebahagiaan.
Cerpen Ilona bercerita tentang seorang perempuan yang enggan menikah karena takut mengalami kegagalan seperti kedua orang tuanya. Cerita ini membahas bagaimana trauma masa lalu bisa membentuk pilihan hidup seseorang. Kutipan ini sangat membekas:
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pada saat itulah ia memulai suatu perjalanan yang panjang, asing, dan penuh tantangan. Dan kita harus sangat yakin bahwa kawan perjalanan kita itu adalah orang yang tepat dan bisa bekerja sama ketika meniti
Cerpen Sepasang Mata Menatap Rain menyentuh isu sosial yang masih relevan: eksploitasi anak, anak-anak yang sering menjadi korban dari peperangan dan anak-anak yang menjadi korban dari kesibukan orang tuanya sendiri. Cerpen ini meremas hatiku karena realitasnya begitu menyedihkan dan masih terjadi di sekitar kita.
Matanya menangis, tapi tidak ada air matanya...
Dan terakhir, cerpen Malam Terakhir menjadi penutup dari perjalanan membaca buku ini. Cerpen ini mengangkat isu politik, tentang bagaimana suara-suara yang memperjuangkan keadilan justru dibungkam. Namun bagiku, cerpen ini memberi pesan bahwa meskipun kebenaran tidak disuarakan secara lantang, ia akan tetap hidup di hati banyak orang, dan suatu saat akan menghancurkan ketidakadilan.
Ulat-ulat kecil akan hancur diinjak sepatu bergerigi itu. Tapi, ulat kecil itu akrab berdekapan dengan tanah. Dan mereka akan menyuburkan bumi ini dengan udara kebenaran.
Setiap cerpen di dalam buku ini akan membawamu merasakan sebuah perasaan dan pengalaman yang tidak akan kamu lupakan. Tidak sabar untuk membaca karya lain dari Leila :)
Cia,
Yogyakarta, 22 Mei 2025


Komentar
Posting Komentar