Pengalaman Membaca Buku: Entrok.

Karya Okky Madasari.

Segala keindahaan dan kebahagiaan itu kenapa hanya ada dalam mimpi? Aku ingin punya entrok berenda. Entrok sutra bertatahkan intan dan permata. Aku ingin semua orang kagum, menatapku dengan iri. Aku juga ingin ada orang yang membuatku merasa begitu bahagia. Mengantarkanku ke kerajaan yang indah. 

Entrok adalah salah satu novel karya Okky Madasari yang pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Gramedia pada tahun 2010. Novel ini terdiri dari 8 bab dengan total 288 halaman. Kali ini Okky Madasari menghadirkan realitas sosial dan politik yang terjadi di Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru dengan menyisipkan kentalnya budaya Jawa di dalam karyanya.

Entrok mengisahkan perjalanan hidup seorang anak perempuan miskin dari desa bernama Marni. Semasa kecil, Marni hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan. Di tengah kondisi tersebut, ia memiliki satu impian sederhana: memiliki entrok (bra). Demi mewujudkan impiannya dan memperbaiki kondisi keluarganya, Marni bekerja keras dan tidak pernah menyerah. Berkat ketekunannya, ia akhirnya menjadi salah satu orang kaya di desanya. Namun, keberhasilannya itu justru menimbulkan kecurigaan dan gosip, bahkan banyak yang menuduh Marni melakukan pesugihan.

Udah lama kepengen banget baca Entrok dan akhirnya bisa terealisasikan karena kebetulan buku ini ada di iPusnas, jadi langsung aja aku pinjam deh. Terima kasih banyak, iPusnas. 

Terdiri dari 8 bab, novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, namun sudut pandangnya bergantian. Beberapa bab disampaikan dari sudut pandang Marni, sementara bab lainnya menggunakan sudut pandang Rahayu, anak Marni. Pergantian sudut pandang ini memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kehidupan dan konflik yang mereka hadapi dari dua generasi yang berbeda.

Ngomongin soal pengalamanku membaca Entrok, jujur emosi yang paling dominan aku rasakan selama membaca buku ini adalah marah dan sedih. Rasa marah itu terutama aku tujukan pada karakter-karakter dari pihak pemerintah yang digambarkan di dalam cerita.

Novel ini berlatar masa Orde Baru, dan sangat jelas memperlihatkan bagaimana aparat pemerintah, khususnya tentara, bertindak semena-mena terhadap rakyat kecil, terutama mereka yang tinggal di desa. Mereka memanfaatkan kekuasaan dengan mengintimidasi warga lewat kalimat-kalimat bernada ancaman untuk merampas harta dari masyarakat. Salah satu bentuk power abuse yang paling menjengkelkan adalah ketika seseorang bisa tiba-tiba dituduh sebagai PKI hanya karena tidak menuruti perintah dan tuduhan itu tentunya bisa langsung menghancurkan hidup seseorang. Yang lebih menyakitkan, pelabelan PKI ini nggak cuma terjadi pada masyarakat desa, tapi juga menyasar orang-orang Tionghoa. Benar-benar miris dan menyedihkan.

Tapi ada satu hal yang aku suka saat tentara mencoba merampas hak orang lain. Ada karakter Marni yang kuat, teguh, dan gak mudah menyerah. Dia berjuang keras buat mempertahankan apa yang menjadi miliknya, meski harus berhadapan dengan tekanan dari tentara. Sikap keras kepala Marni ini jadi simbol perlawanan yang membekas banget buatku. Banyak kutipan di novel ini yang terasa seperti sindiran tajam terhadap pemerintah, dan ini adalah beberapa kutipan yang bisa aku cantumkan di sini: 

Jangan pernah mengharapkan orang-orang pemerintah menolong. Lha wong malah mereka yang minta dijatah.

Sangat menohok sekali bukan kutipannya. Gak cuma itu, aku juga nemu kutipan yang jelasin gimana pemerintahan waktu itu gemar merampas apa yang dimiliki sama rakyat.  

Alam membuat teka-teki sekaligus menyediakan jawabannya. Manusia hanya harus mencari dan mencocokan. Yang susah dihadapi ketika teka-teki itu dibuat oleh manusia lain. Manusia yang punya kuasa atas manusia lainnya, manusia yang memegang senjata untuk menjaga kuasa yang dipegangnya. Teka-teki seperti itu tak pernah menyimpan jawaban. Ia hanya membawa kesusahan yang berujung pada penderitaan abadi.

Bukan cuma pemerintah yang bikin aku mencak-mencak waktu baca buku ini. Ada satu bagian yang benar-benar bikin emosiku meledak. Ceritanya tentang seorang anak perempuan dari desa yang tanahnya harus diserahkan ke pemerintah karena desa itu akan dijadikan waduk. Warga desa berjuang mati-matian untuk mempertahankan tanah mereka, tapi ada satu warga yang memilih cara yang sama sekali nggak masuk akal. Ceritanya tentang seorang anak perempuan dari desa yang tanahnya harus diserahkan ke pemerintah karena desa itu akan dijadikan waduk. Warga desa berjuang mati-matian untuk mempertahankan tanah mereka, tapi ada satu warga yang memilih cara yang sama sekali nggak masuk akal. Salah satunya adalah yang dialami anak perempuan ini. Ayahnya, yang seharusnya melindungi, malah menyuruh dia yang usianya baru sekitar 12 tahun buat tidur sama tentara, dengan maksud berharap pemerintah bisa membatalkan rencana pengambilan tanah desa mereka. Astaga, baca bagian itu rasanya aku langsung pengen menghantam ayahnya saat itu juga.

Kentalnya budaya patriarki pada saat itu juga dijelaskan dalam buku Entrok. Diceritakan bagaimana jika ada laki-laki yang tidur dengan wanita lain, hal itu bukan sesuatu yang bisa diprotes secara blak-blakan oleh istrinya. Sang istri bahkan nggak bisa langsung menggugat cerai, walaupun jelas-jelas sudah diduakan. Padahal, si suami ini juga sudah tidak lagi bertanggung jawab sebagai kepala keluarga baik secara ekonomi maupun emosional. Tapi tetap saja, perempuan dibuat harus diam, tunduk, dan menerima keadaan. Tapi Marni gak gitu kok guys. Memang dia ini adalah diva yang sesungguhnya.

Hal lain yang aku amati saat membaca Entrok adalah adanya perbedaan cara pandang dan nilai kehidupan antara dua generasi: Marni dan Rahayu. Perbedaan ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan lingkungan sosial yang membentuk mereka.

Marni, yang sejak kecil tidak mengenyam pendidikan formal dan buta huruf, membentuk pandangan hidupnya berdasarkan nilai-nilai dan kepercayaan yang diajarkan oleh Simboknya yang serba kejawen. Sementara itu, Rahayu tumbuh dengan akses pendidikan yang baik, sehingga cara berpikirnya lebih  modern dan lebih memahami mengenai agama. Rahayu memandang kehidupan ibunya sebagai sesuatu yang tidak ideal, bahkan sering kali tidak masuk akal menurut standar pemahaman yang ia pelajari di sekolah.

Konflik antara mereka berdua pun tak terelakkan. Keduanya kerap berselisih karena merasa masing-masing punya kebenaran sendiri. Rahayu sangat percaya pada nilai-nilai yang ia pelajari secara akademis dan agamis, sementara Marni tetap teguh pada prinsip dan tradisi yang selama ini ia yakini. Ketegangan ini jadi gambaran nyata bahwa pendidikan memang sangat penting, tapi harus diiringi dengan pendampingan yang bijak agar anak tidak melupakan nilai-nilai kehidupan dan makna dari sebuah keluarga. 

Salah satu bagian yang paling bikin 'nyes' buatku adalah saat Marni dan Rahayu bertengkar karena perbedaan pandangan mereka dan Marni bilang gini, 

Ealah... Nduk, sekolah kok malah membuatmu tidak menjadi manusia.

Beralih ke hal lain yang juga sangat menarik perhatianku selama membaca buku ini, aku jadi merenungkan bagaimana roda kehidupan selalu berputar. Kita tidak selalu berada di puncak atau dalam keadaan bahagia. Ada masa-masa sulit dan jatuh, tapi yang penting adalah bagaimana kita selalu punya cara untuk bangkit kembali. Waktu ngikutin alur kehidupan Marni ini aku banyak nangisnya tapi aku sangat suka dengan semangat Marni yang tak pernah padam untuk terus berusaha dan menghasilkan uang demi memperbaiki hidupnya. Dia bahkan berkata,

Yang hidup harus tetap bekerja. Itulah satu-satunya yang bisa kulakukan agar saat mati nanti tetap mati dengan terhormat. Tidak mati sebagai wong kere. 

Tentu semangat ini bisa dimaknai bersama dan ditanamkan di dalam diri juga untuk terus berusaha mencapai kehidupan yang layak.

Hal terakhir yang ada di dalam buku ini adalah tentang eratnya tali keluarga. Meskipun udah berpisah bertahun-tahun, baik secara fisik maupun batin, keluarga tetaplah keluarga. Akan selalu ada sesuatu yang membuat kita kembali, meski hubungannya terasa biasa-biasa saja atau hambar karena hanya terikat oleh status. Tapi tetap, tanggung jawab sebagai istri dan ibu nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Dan seharusnya, anggota keluarga yang lain pun punya kesadaran yang sama untuk tidak lari dari tanggung jawab mereka sebagai suami dan sebagai anak.

Oh iya, setelah kalian selesai membaca buku ini jangan lupa untuk kembali membaca Bab: Setelah Kematian. Pasti rasanya makin tambah sedih. Soalnya aku pribadi nangis waktu selesai baca dan balik ke bab awal itu.

Buku ini sangat worth it buat dibaca.

Cia,
Yogyakarta, 24 Mei 2025

Komentar