Pengalaman Membaca Buku: Sihir Perempuan.

Karya Intan Paramadhita.


Yang ku lakukan, Nak, adalah menampung semua jeritan itu. Sebab jika tidak jeritan itu hanya akan menguap di udara dan meninggalkan perempuan bisu untuk selama-lamanya.

Ada salah satu temanku yang berkali-kali membicarakan buku ini setiap kali kami berkumpul. Ceritanya bahkan membuat temanku yang lain ikut tertarik untuk membeli bukunya, dan mereka pun sepakat bahwa buku ini memang apik. Akhirnya, pada bulan April 2025, Sihir Perempuan resmi bergabung dengan koleksi buku-bukuku di rak. Karya milik Intan Paramaditha ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Kata Kita pada tahun 2005, lalu diterbitkan ulang oleh Gramedia pada tahun 2017. Sihir Perempuan merupakan kumpulan dari sebelas cerpen yang disajikan dalam 159 halaman.

Terimakasih untuk kedua temanku yang sudah mengenalkanku dengan buku ini. Pengalaman membaca ini tidak akan tuntas jika tidak mendengar mereka membicarakan seberapa eloknya Sihir Perempuan.

Sihir Perempuan menyuguhkan kumpulan cerita tentang perempuan yang berani melawan dan memberontak menggunakan berbagai rupa, diramu dalam nuansa horor, mistis, mitos, legenda, dan dongeng, dengan sudut pandang feminis. Terdapat sebelas cerita dalam buku ini dengan masing-masing judul: Pemintal Kegelapan, Vampir, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Mobil Jenazah, Pintu Merah, Mak Ipah dan Bunga-Bunga, Misteri Polaroid, Jeritan dalam Botol, Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah, Darah, dan Sang Ratu. Beberapa cerita mengangkat topik-topik yang cukup sensitif dan bisa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian pembaca.

Setiap cerita menampilkan bagaimana perempuan melawan tekanan dunia yang kerap menormalisasi luka, mengabaikan jeritan, dan menolak mengakui keberadaan perempuan secara utuh dan apa adanya. Setelah menutup halaman terakhir, yang terus terngiang adalah berbagai perlawanan hebat perempuan yang muncul lewat kekuatan magis — menakutkan, tak terduga, dan mengguncang. Kekuatan yang selama ini disembunyikan, tapi akhirnya dimunculkan dengan lantang, membuat siapa pun yang menyaksikannya merasa gentar. 

Buku ini sebetulnya cukup tipis, tapi isinya membuatku harus mmebaca lebih dari satu kali agar benar-benar bisa menelan pesan di balik tiap tulisannya. Cerita-cerita yang disampaikan begitu kompleks, dengan alur yang tidak biasa. Kehadiran ilustrasi sebagai pelengkap cerita membuat imajinasi semakin bertumbuh dengan liar dan menantang bulu kuduk untuk berbaris lurus, tegap, dan rapi. 

Dari semua cerita, inilah 4 cerpen yang paling membekas bagiku:

1. Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari

Cerita ini sepertinya terinspirasi dari kisah Cinderella, tapi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Sama seperti alur Cinderella pada umumnya dengan penambahan beberapa hal di dalamnya, cerpen ini mengisahkan seorang perempuan yang dulunya hidup makmur, namun kemudian harus kehilangan segalanya, bahkan sampai menjadi buta dan kehilangan ibu jarinya. Semua ini bermula setelah ia memiliki seorang adik tiri yang cantik dan rupawan, sedangkan dirinya biasa-biasa saja. Hal ini membuat sang ibu berusaha menghalalkan segala cara agar anak perempuannya yang berwajah biasa ini bisa disukai oleh orang lain termasuk pangeran yang sedang mencari pendamping hidup. Tapi mustahil, karena semua orang lebih menyukai hal-hal yang nampak apik.

Karena itu, saat pangeran berkeliling mencari pemilik sepatu yang digadang-gadang sebagai calon istrinya, sang ibu memaksa anaknya untuk memotong jarinya agar kakinya bisa muat di sepatu yang dibawa oleh seorang pangeran itu. Dari sini, kita bisa melihat bagaimana tuntutan realita di sekitar kita: bahwa wajah yang rupawan sering kali membawa keuntungan, karena banyak orang lebih menyukai penampilan menarik daripada yang biasa-biasa saja. Menyakitkan, sungguh. Hal ini bisa sampai membuat seseorang kehilangan jati dirinya, bahkan memaksa dirinya tampil cantik meskipun harus terluka. Tapi kecantikan pun tidak selamanya menguntungkan. Dalam cerita ini, tidak ada akhir bahagia untuk siapa pun. Sang adik tiri yang akhirnya diboyong ke kerajaan dan menikah pun tetap harus merasakan kesedihannya sendiri di sana.

... Nak, dunia ini memang penuh dengan sepatu kekecilan yang hanya menerima orang-orang termutilasi

2. Mak Ipah dan Bunga-Bunga

Cerpen ini penuh plot twist dan menurutku paling keren banget. Mengisahkan Marini, seorang perempuan yang baru saja menikah dan harus ikut ke kampung suaminya untuk merayakan pernikahan mereka sesuai dengan kebiasaan dan adat yang ada. Saat sampai di sana, Marini bertemu dengan Mak Ipah yang selalu merawat bunga di kebunnya. Siapa sangka, kebun itu ternyata menjadi saksi bisu dari pembalasan dendamnya. Duh, aku benar-benar suka banget sama cerpen ini.

Ia telah mengambil bungaku dan kini bunga yang menghisap hidupnya.

Hal lain yang menjadi perhatianku di bagian cerpen ini adalah, kebiasaan patriarki yang masih cukup kental bisa ditemukan dengan mudah di dalam kebiasaan dan adat. 

3. Jeritan dalam Botol

Inilah perjalanan Gita menemui perempuan sihir bernama Sumarni, perempuan yang diberitakan sudah berkerja sama dengan setan dan dapat melakukan ilmu hitam untuk menjatuhkan lawan. Tapi ternyata dia adalah seseorang yang memiliki banyak kekuatan untuk berada di sisi perempuan karena dia lah yang bisa memahami perempuan. Ia merengkuh kesengsaraan perempuan dan menyembuhkannya dikala dunia tidak mau mendengarkan jeritan kesengsaraan itu. Banyak kutipan yang aku suka, salah satunya sudah tercantum di bawah gambar buku yang aku lampirkan. Ini merupakan kutipan lain yang aku suka dari Jeritan dalam Botol

Mereka tidak berkuasa mengatur diri mereka sendiri, mata, jemari, nafas, rahim. Daun-daun yang tdak bisa berhenti menguning, mengering, lantas terpaksa jatuh ke tanah

4. Sang Ratu. 

Sang Ratu mengisahkan tentang seorang perempuan yang memiliki kekuatan untuk membalas perlakuan suaminya yang berselingkuh. Perempuan dalam cerpen ini digambarkan menggunakan sosok Nyi Roro Kidul, sosok yang sangat kuat sehingga siapa pun akan takluk di hadapannya, dan laki-laki akan melakukan apa saja agar keinginannya terkabul. Selesai baca ini aku pun berkomentar, "mampus" untuk laki-laki yang kurang ajar dan berperilaku sok iye itu ^^ Dan sesungguhnya lewat cerpen ini kesadaran bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk melawan laki-laki brengsek tanpa harus berpenampilan seperti Nyi Roro Kidul turut hadir di dalam benakku.

Menurutku, buku ini bukan sekadar bacaan, tapi semacam mantra yang dapat menghidupkan kembali kesadaran pembaca akan sisi kehidupan perempuan yang selama ini tersembunyi dan nyaris tak terdengar sehingga seringkali membuat hidup mereka terasa keruh. Namun pada akhirnya perempuan bisa menunjukkan perlawanan dan berkumandang dengan dahsyat mengenai kekuatan yang mereka miliki. Kita semua punya kekuatan untuk bertahan dan melawan, bentuknya berbagai macam. Menurutku, menyadari dan mendengarkan sayatan hati perempuan adalah salah satu kekuatan yang mampu mencegah perempuan membisu.

Cia,
Yogyakarta, 24 April 2025.

Komentar