Pengalaman Membaca Buku: Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam.

Karya Dian Purnomo.
Menurutku lagu yang cocok untuk buku ini: Matilda-Harry Styles. 




“Berhenti membuat kami merasa seperti barang, yang bisa ditukar dengan hewan, yang dihargai hanya karena kami pung rahim.”

Saat berjalan-jalan di toko buku, sampul dan blurb buku ini langsung mencuri perhatianku. Awalnya aku berpikir, "Ah, lihat-lihat dulu aja, deh." Tapi setelah itu, aku justru semakin kepikiran. Berkali-kali aku menengok deretan tempat buku ini berada sambil membaca review orang yang sudah pernah membaca buku ini. Hingga akhirnya Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hilang resmi bergabung ke rak bukuku setelah pertimbangan yang sangat panjang. Karya Dian Purnomo ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Gramedia pada tahun 2020, dengan total 320 halaman.

Peringatan keras: Buku ini memiliki label 17+ dan mengangkat isu-isu sensitif yang bisa membuat sebagian pembaca merasa tidak nyaman. Harap bijak dalam memilih bacaan. 

Trigger warning: Sexual assault, sexual harassment, rape, suicidal thoughts, suicide attempt.

Magi Diela adalah wanita Sumba yang membawa banyak mimpi untuk membangun Sumba menjadi lebih maju dengan segala ilmu yang dimilikinya. Mimpi-mimpi itu ia pupuk dengan sepenuh hati, berharap kelak mimpinya bisa menghasilkan panen terbaik. Namun, bom tiba-tiba jatuh dan merusak ladang mimpinya yang subur. Magi Diela mendadak diculik untuk dipaksa menikah - sebuah tradisi kawin paksa yang masih berlangsung di sebagian wilayah Sumba. Hal ini membuat dunianya runtuh, impian-impiannya mulai berguguran, dan kemerdekaannya sebagai perempuan terkubur tanpa penghormatan. Dirinya telah dipenjara dan dibungkam oleh adat istiadat. 

Membaca buku ini rasanya seperti membuka diary milik Magi. Buku ini terdiri dari total 57 bab, tapi jangan khawatir karena tiap bab disajikan secara singkat dan sama sekali tidak membosankan. Justru menurutku, ceritanya sangat menarik dan bikin aku terus ingin tahu kelanjutannya. Meski begitu, ada beberapa bab yang membuatku perlu berhenti sejenak karena terlalu mengguncang perasaan dan membuat mual. 

Bahasa yang digunakan penulis pun sangat mudah dipahami. Walaupun alurnya maju-mundur, penyampaiannya tidak membingungkan. Buku ini juga membuka wawasanku tentang budaya dan bahasa Sumba. Kadang pengetahuan baru ini rasanya menakjubkan, tapi tak jarang juga membuat keningku berkerut hebat karena terheran-heran. Terdapat gambar-gambar suasana Sumba yang bisa membantuku lebih mendalami alur cerita. 

Perjalanan Magi dalam Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hilang sungguh memilukan sekaligus membanggakan. Segala bentuk perlawanan sebagai perempuan ia kerahkan sekuat mungkin untuk melawan. Aku sangat salut pada karakter Magi yang begitu tangguh. Selain ingin menunjukkan bahwa perempuan berhak untuk merdeka, buku ini juga sempat menegaskan bahwa tidak semua adat harus terus dipertahankan, terutama jika adat tersebut merugikan. Lewat kisah Magi, kita diperlihatkan betapa menyakitkannya nasib perempuan Sumba yang harus tunduk pada adat kawin paksa. Mereka tidak berani melawan karena merasa sudah sewajarnya diperlakukan tidak pantas, seolah tinggal sampai wafat bersama dengan pasangan patriarki yang tidak pernah mengasihi kehadirannya adalah sebuah takdir yang tidak bisa dikeruk dindingnya.

Tidak ada sedikit pun penyesalan setelah membeli dan membaca buku ini.

Banyak pelajaran yang aku dapat dari buku ini dan beberapa di antaranya adalah: terkadang, kita memang perlu lebih peka dan terbuka terhadap perubahan. Kita juga perlu belajar memahami perasaan orang lain, dan tidak memaksakan kehendak seolah-olah kekuatan hanya berada di tangan kita. Kita harus belajar untuk lebih memperhatikan dan menghargai sesama nyawa yang bernafas di dunia, entah bagaimana pun bentuk dan rupanya. 

Perempuan bisa melawan.

Perjuangan Magi dan perasaan Dangu akan terus aku ingat di dalam hati paling dalam.

Terakhir, berbicara tentang buku ini, saat membaca kisah Magi, aku langsung teringat pada lagu "Matilda" karya Harry Styles. Lagu ini terasa seperti bentuk validasi atas perasaan Magi—seolah memberi ruang dan izin baginya untuk tumbuh menjadi seorang manusia di luar rumah, jauh dari keluarganya. Terlebih lagi, bagian lirik berikut sangat menggambarkan perjalanan emosional Magi:

You can see the world, following the seasons
Anywhere you go, you don't need a reason
'Cause they never showed you love
You don't have to be sorry for doing it on your own

You're just in time, make your tea and your toast
You framed all your posters and dyed your clothes, ooh
You don't have to go
You don't have to go home
Oh, there's a long way to go
I don't believe that time will change your mind
In other words
I know they won't hurt you anymore as long as you can let them go

Lagu ini seakan menjadi pelukan hangat untuk Magi—yang sudah berani mengambil langkah menjauh dari luka, menemukan jati dirinya, dan merawat dirinya sendiri meskipun tanpa dukungan keluarga. Sebuah pengingat bahwa ia tidak perlu merasa bersalah karena memilih untuk bertahan dan melanjutkan hidup dengan caranya sendiri.

Cia,
Yogyakarta, 26 April 2025.



Komentar